
Dewasa ini kita tidak hanya dalam krisis ekonomi, sosial, dan politik. tetapi, juga dalam krisis kesadaran tingkah laku berpolitik. Krisis multidimensi yang kita derita saat ini maki diperparah karena para elit politik kita karena tidak mempunyai rasa malu politik. Sebaiknya, para elit politik kita kembali ke budaya sopan santun dan perasaan kepantasan demokrasi.Mengapa kita kehilangan budaya sopan santun dan perasaan kepantasan demokrasi? Mengapa kita tidak dapat menunjukkan sopan santun dalam berpolitik? Apakah kita memang tidak mempuyai rasa malu berpolitik, semacam perasaan kepantasan demokrasi, yang justru amat diperlukan dalam situasi yang kritis dan gawat ini?
Secara empiris, amat mudah kita menemukan contoh, betapa rasa malu yang berkaitan dengan tiadanya rasa bersalah itu ada dalam masyarakat kita. Paling mencolok adalah pada tindakan dan sikap para pemimpin politik. Bukan rahasia lagi, banyak para pemimpin dan elit politik kita yang jelas2 bersalah menyebabkan berbagai krisis yang dihadapi bangsa. Ketika tampil di era reformasi, para pemimpin itu tidak sedikitpun memperlihatkan bahwa mereka ikut bersalah, sehingga tahu diri bagaimana membawa diri di era baru ini. Mereka memang mempunyai hak untuk tampil, tetapi menyinggung perasaan rakyat bahwa penampilan mereka mengesankan bahwa mereka tidak pernah salah samasekali.
Rasa bersalah akan menuntut orang untuk menemukan sebentuk perilaku yang tahu diri dan rendah hati, juga di dalam mempertahankan kekuasaan. Jika rasa bersalah itu tidak ada, orang pun akan menjalankan kekuasaannnya dengan arogan dan sombong seperti yang biasa dilakukannya.
Source: Buku Etika Politik, G.P Shindunata + perubahan oleh Devi Ananta Drarreg
No comments:
Post a Comment